Problematika Inovasi UMKM di Indonesia

Problematika Inovasi UMKM di Indonesia

Yusuf Risanto,
Peneliti The Economic Reform Institute (ECORIST), Malang.

Inovasi merupakan hal yang krusial bagi keberadaan dan keberlangsungan sebuah Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Inovasi menjadi pajakan bagi UMKM untuk mencapai tingkat daya saing yang kompetitif. Di dalam banyak literatur dan juga dalam praktiknya, daya saing sedikit banyak akan ditentukan oleh seberapa besar inovasi yang telah dilakukan.

Ada banyak hal yang menjadikan tingkat inovasi UMKM kita tidak begitu menggembirakan. Dari banyak problematika tersebut, bila diperas lagi maka setidaknya ada tiga faktor utama yang menjadikan tingkat inovasi UMKM tidak begitu menggembirakan, yakni pertama, permodalan; kedua, sumber daya manusia (SDM); ketiga, jaringan.


Faktor permodalan selalu menjadi hambatan yang seakan tidak pernah bisa diselesaikan dan dicarikan solusinya. Banyak format yang telah ditawarkan oleh banyak pihak, baik oleh lembaga swadaya masyarakat, perbankan, pelaku UMKM sendiri, maupun pihak pemerintah, yang kesemuanya pada kenyataannya hanya berhenti pada konsep tanpa implementasi.

Bila diteropong lebih lanjut, sebenarnya kita bisa dengan gamblang melihat akar dari permasalahan permodalan yang dialami pelaku UMKM ini. Rendahnya kepercayaan pihak lembaga keuangan terhadap para pelaku UMKM menjadi faktor yang tidak bisa dipungkiri menjadi pemicu utama munculnya permasalahan permodalan di sektor UMKM. Tidak memadainya permodalan sedikit banyak menghambat daya inovasi para pelaku UMKM.

Bahkan secara ekstrem dapat dikatakan bahwa program inovasi bagi beberapa pelaku UMKM dianggap sebagai sebuah perjudian (gambling). Ini karena tidak ada kepastian terhadap hasil yang dicapai pada tahap inovasi. Ketidakpastian pasar juga menjadi persoalan bagi para pelaku UMKM jika melakukan inovasi.

Permasalahan sumber daya manusia ini berhubungan dengan cara pandang pelaku UMKM dalam menyikapi inovasi. Tidak sedikit pelaku UMKM menganggap inovasi bukan sesuatu hal yang penting untuk dilakukan. Cara pandang ini seringkali berpijak pada kondisi kekinian yang telah berhasil mereka raih.

Tanpa adanya inovasi para pelaku merasa telah mampu menjalankan usaha mereka dengan relatif baik. Zona aman yang telah mereka rasakan itulah yang ke-mudian menjadikan mereka enggan melakukan inovasi. Inovasi, lagi-lagi, bagi pelaku UMKM seperti ini dianggap sebagai tindakan yang belum tentu mendatangkan keuntungan usaha dan bersifat spekulatif.

Last but not least, lemahnya jaringan yang dimiliki para pelaku UMKM berimplikasi pada lemah nya mereka dalam berinovasi. Jaringan adalah faktor yang tidak bisa diabaikan dalam perkembangan inovasi. Jaringan mampumenjadi faktor pendorong ataupun stimulus bagi UMKM untuk bisa melakukan inovasi. Difusi inovasi dapat terjadi, salah satunya, karena adanya faktor jaringan yang dimiliki oleh UMKM.

Banyak pihak yang bisa dijadikan rekanan oleh UMKM untuk melakukan inovasi. Salah satu institusi yang selama ini telah dan berpotensi menjadi rekanan bagi UMKM untuk mengembangkan inovasi adalah perguruan tinggi. Namun sayangnya, seolah-olah universitas dan pelaku UMKMbelum mampu mengoptimalkan jaringan tersebut. Kondisi ini menandakan belum adanya komunikasi yang intensif antara pelaku UMKM dan universitas untuk mengembangkan inovasi.

Memupuk Modal Sosial

Berbagai persoalan inovasi yang dialami oleh UMKM tersebut tentu tidak dengan serta merta dapat dibereskan kesemuanya Akan tetapi setidaknya semua pihak yang terlibat dalam pengembangan UMKM harus mulai membangun kebersamaan yang saling mendukung. Pembangunan modal sosial menjadi salah satu titik puak yang bisa dijadikan awalan dalam upaya menyelesaikan permasalahan inovasi UMKM.

Menurut Francis Fukuyama, dalam bukunya Tke Great Disruption, modal sosial berpotensi bisa memperlancar tingkat inovasi yang Iebih tinggi. Salah satunya, karena keberadaan modal sosial mampu mereduksi biaya-biaya transaksi yang sangat membebani dalam pengembangan inovasi.

Melalui pembangunan kepercayaan di antara pemangku kepentingan UMKM serta penguatan jaringan diharapkan permasalahan permodalan, sumberdaya manusia, serta jaringan dapat direduksi secara gradual. Setelah itu, kita boleh berharap pada UMKM. .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar