Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kabupaten Bandung Barat mencari tiga belas pelaku usaha, untuk diberi pelatihan hingga menjadi wisausahawan baru. Pelatihan itu merupakan bagian dari program Pemerintah Provinsi Jawa Barat, yang tahun ini menargetkan tiga ratus wirausaha dari seluruh Jawa Barat.
Ketua Kadin Kabupaten Bandung Barat, Rudy Kisyanto, Sabtu (19/2) mengatakan, hal itu dilakukan untuk menyinergikan program daerah dengan program provinsi, yakni mengembangkan para pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Program ini berlaku untuk 26 kabupaten/kota di seluruh Jawa Barat.
"Dari kuota tiga ratus calon wirausahawan, masing-masing kabupaten di seluruh Jawa Barat mendapatkan kuota 12-13 pelaku usaha untuk diberi pelatihan," ujarnya.
Untuk mendukung program tersebut, kata Rudy, Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Barat menyediakan anggaran Rp 200 miliar yang akan diserahkan setiap enam bulan sekali. Dana tersebut digunakan untuk biaya pelatihan dan modal usaha calon wirausaha.
Sementara itu, untuk mengikuti pelatihan ini, kata dia, calon wirausaha disyaratkan telah memiliki usaha sendiriserta memiliki latar belakang pendidikan minimal D-3. Selanjutnya, mereka akan diberi pelatihan selama setahun hingga menjadi wirausaha.
Program tersebut, menurut Rudy, sejalan dengan program Kadin pusat yang akan meluncurkan program "Satu Desa Satu Produk". Melalui programitu, setiap desa diharapkan memiliki produk unggulan untuk dijual ke pasar.
"Sasarannya jelas, yakni untuk meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan warga desa," ujarnya.
Kearifan lokal
Sejauh ini, beberapa daerah di Kabupaten Bandung Barat sudah memiliki produk khas daerah setempat. Rudy mencontohkan, kawasan Lembang sudah terkendal dengan produk tahunya dan Cililin dengan wajitnya.
Kendatipun demikian, kata Rudy, konsep "Satu Desa Satu Produk" ini tidak hanya mengacu pada produk makanan ataupun minuman khas suatu desa. Namun, konsep tersebut cenderung mengacu pada kearifan lokal serta keunikan dan kebudayaan setempat.
"Misalnya produk Desa Ci-hiedung yang khas, yakni bunga potong dan bunga hias. Ke depan, sejumlah desa diharapkan memiliki ciri khas yang bisa dijadikan ikon," ujar Rudy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar