Nias Butuh Pabrik Pengolahan

Kabupaten Nias belum memiliki pabrik pengolahan, khususnya komoditas pertanian, perkebunan dan peternakan, sehingga masyarakat sangat bergantung pada produk luar pulau.

Kurnia Zebua, Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Nias,- Provinsi Sumatra Utara, mengatakan kondisi ini menyebabkan produk komoditas pertanian hanya dikonsumsi dalam bentuk mentah dan pengolahan sederhana, sehingga tidak adanilai tambah bagi perekonomian daerah.

Jika hasil produksi petani di kawasan yang pernah dilanda gempa dan tsunami hingga menewaskan lebih dari 1.000 orang itu dijual ke daerah lain, nilai jual di tingkat petani dan peternak sangat rendah, mengingat biaya yang dibutuhkan untuk mendistribusikan barang dari Nias sangat tinggi.

FCTC Rugikan Petani Tembakau

Ratifikasi Konvensi Kerangka Kerja Pengendalian Tembakau atau Framework Convention onTobacco Control (FCTC) dinilai dapat merugikan petani tembakau serta mengancam keberadaan rokok jenis kretek sebagai salah satu warisan budaya.

Anggota Komisi IX DPR Rieke Dyah Pitaloka mengatakan, ratifikasi pengendalian tembakau dapat mengancam kretek sebagai salah satu warisan budaya Indonesia. Dia bahkan menganggap kedudukan kretek setara warisan budaya lainnya seperti batik. "Kretek bukan hanya soal isu kesehatan, bisnis dan sumbangan ekonomi. Tapi heritage yang mesti dijaga seperti batik," ungkap Rieke melalui rilis yang diterima SINDO kemarin.

Menurut dia, kretek tidak berbeda dengan warisan budaya nasional lain seperti batik dan tempe yang tidak dimiliki negara lain. Karena itu, kretek mesti dijaga agar tidak hilang akibatkepentingan bisnis asing melalui FCTC. Dia juga menyamakan kretekdengancigardi Kuba. Keduanya dinilai warisan budaya yang tidak ada kaitan dengan FCTC. "Kretek itu seperti batik dan tempe.Tidak ada negara lain yang punya. Kretek seperti cigar iscigardi Kuba," ujarnya.

Rumput Laut Wakatobi, Gagal Panen

Gagalnya panen rumput laut di Wakatobi, terutama di Desa liya Raya Kecamatan Wangiwangi Selatan (Wangsel), selain merupakan pukulan berat bagi kalangan petani di daerah ini, juga banyak petani resah karena tidak adanya mata pencaharian lainnya.

Untuk itu diminta kepada pihak yang berkompeten agar dapat mencarikan solusi, terutama pengadaan bibit rumput laut Demikian dikatakan salah seorang petani rumput laut asal Desa Liya Bahari Wakatobi Provinsi Sulawesi Tenggara ISultra), La Rudi, ketikadihubungi Harian Pelita di Desa Liya Bahari, pada Selasa (16/10).

Menurut La Rudi, gagalnya panen rumput laut di daerah tni selain sudah berlangsung selama 6 bulan terakhir ini, juga banyak petani menjadi resah. Karena itu, masyarakat petani meminta kepada pemerintah setempat untuk mengadakan bibit yang unggul. Selain itu, kalangan petani juga berharap agar Pemerintah dapat menertibkan kalangan "tengkulak* pembeli rumput laut dibawa standar harga, tuturnya.

Pembatasan Kebun Sawit

Malaysia tampaknya bukan termasuk kategori negara tetangga yang baik, lantaran sangat culas. Negara jiran itu mengajak Indonesia, produsen terbesar kelapa sawit mentah atau Crude Palm Oil (CPO) menjaga stabilitas harga jualnya. Caranya, Indonesia dar Malaysia tidak menurunkan harga jual komoditas perkebunan tersebut. Saal Indonesia berupaya keras mengelola harga agar tidak turun, Malaysia malah mengeluarkan kebijakan menurunkan bea ekspor. Keruan saja, harga CPO Malaysia di pasar global (urun. Kondisi ini membuat harga CPO Indonesia di pasar ekspor kalah kompetitif dibanding CPO produksi negara yang pernah dijajah Inggris itu.

Pemerintah Indonesia yang gusar tak kehabisan akal. Tak lama lagi, pemerintah mengeluarkan kebijakan yang melarang investor asing memperluas lahan perkebunan sawitnya.

Meski tak sekuat jati, kayu trembesi tetap diminati

Kayu trembesi sekarang banyak dilirik sebagai bahan baku kerajinan dan furnitur pengganti kayu jati. Walau memiliki sejumlah kelemahan dibanding jati, namun teksturnya yang unik membuat kayu ini bisa diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Kayu trembesi bisa menjadi alternatif bahan baku furnitur menggantikan kayu jati. Dengan harga lebih murah dan tekstur kayu yang bagus, kayu trembesi banyak disukai konsumen.

Trembesi atau yang dikenal dengan nama Samanea saman berasal dari genus Albizia. Jenis ini memiliki lingkar pohon mencapai 4,5 meter (m) dengan tinggi rata-rata 30 m sampai 40 m.

Kemenkop UKM Beri Bantuan Perkuatan Usaha

 Kementerian Koperasi Usaha Kecil dan Menengah memberikan bantuan perkuatan usaha bagi puluhan koperasi dengan berbagai usaha sebesar Rp23,3 miliar lebih. Pemberian bantuan perkuatan usaha itu dilakukan secara simbolis oleh Deputi Pembiayaan Kemenkop UKM Pariaman Sinaga di Aula Martabe Pemprov Sumut di Medan, Jumat.

Pemberdayaan koperasi sangat penting dilakukan karena menjadi salah satu fondasi dalam perekonomian bangsa, katanya. Pemberdayaan koperasi juga dinilai penting karena dapat mengurangi ekses dari inflasi dan kenaikan harga yang sempat mengkhawatirkan masyarakat. Besarnya manfaat koperasi tersebut menyebabkan konsep peningkatan ekonomi yang berasal dari Indonesia tersebut justru banyak dipraktikkan di negara lain.

Pariaman Sinaga mengaku pernah mengunjungi sejumlah peternak sapi di beberapa negara seperti Swiss, Denmark, dan Jerman yang mengirimkan susu perannya melalui sebuah unit usaha. Ternyata, unit usaha itu berbentuk koperasi yang menyalurkan susu-susu ke sejumlah perusahaan pengolahan.

Lele Sangkurian, Iseng Iseng Berbuag Manis

Berawal dari coba-coba, usaha budi daya lele sangkuriang yang dirintis Fauzan Hangriawan, 25, telah memberikan kontribusi sangat berarti tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga kepada lingkungan sekitarnya.

Fauzan adalah salah seorang sosok wirausaha muda yang mengembangkan pembudidayaan bibitlele dengan sistem plasma atau kemitraan. Dengan 20 petani binaannya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Atmajaya ini bersama-sama mengembangkan usaha pembudidaya ankle dengan sistemma-najemen kelompok, dimulai dari pembenihan, pembesaran hingga penjualan.


Priayanghobi olahraga ini telah menunjukkan bakat kewirausahaan sejak masih duduk di bangku SMP. Dia mengaku telah melakukan usaha kecil-kecilan meskipun sifat awalnya hanya membantu teman untuk menjualkan barang seperti kerupuk dan nasi.

Awalnya dia mengaku iseng belajar budi daya lele karena melihat potensinya di samping menyukaibi-dang agrobisnis seperti peternakan dan perikanan. "Nah saya ingin belajar dan di sisi lain saya juga membaca dari media lain bahwa lele itu punya prospek, makanya saya coba," ujar Fauzan saat ditemui di lokasi usahanya di Jalan Purwa Madya I Blok W25 Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan belum lama ini.

Fauzan lantas memulai membudidayakan lele dumbo terlebih dahulu pada September 2009. Proses pembelajarannya dilakukan secara autodidak melalui buku dan internet. Namun di tengah per-jalanannya, dia menemukan banyak kendala di lapangan. "Usaha lele tidak semudah yang kita bayangkan," ujar pria kelahiran Pontianak, 24 Juli 1986, ini.

Pada awalnya, dia mendapatkan hasil usaha yang tidak maksimal. Mulai dari gagal panen, penjualan yang tidak sepadan dengan biaya produksi, serta tingginya ringkat kematianlele.Hinggapada akhirnya Fauzan membaca sebuah artikel di sebuah harian nasional yang membahas seorang sosok pembudi daya lele sangkuriang bernama Nasrudin.

Dari situlah dia kemudian meneguhkan niat untuk berguru kepada Nasrudin. Setelah mengikuti pelatihan, Fauzan langsung mempraktikkan ilmunya dalam rentang waktu dua minggu.

"Di bulan November itu saya diperkenalkan oleh teman saya itu melalui surat kabar waktu itu, sosok Pak Nasrudin. Seminggukemu-dian saya niatkan untuk bersilaturahmi dan belajar dengan beliau serta ikut pelatihan dan langsung bukasatukolam,"ujar Fauzan yang menamakan usahanya Sylvafarm itu.

Sembari membuka satu kolam, Fauzan tetap belajar dan berbagi dengan Nasrudin hingga akhirnya memberanikan diri untuk membuka delapan kolam. Seterusnya menjadi 25 kolam hingga akhirnya menjadi 75 kolam. Dari kolam tersebut Fauzan dapat menghasilkan 15.000 ekor bibit lele sangkuriang setiap bulannya.

Setelah memahami teknologi serta pemahaman yang mendalam budi daya lele sangkuriang, dia kemudian mencoba mengajak warga dan petani lele yang ada untuk bekerja sama membudidayakan lele sangkuriang.

Dalam model kerja sama ini, Fauzan bertindak sebagai pembenih dan pembesaran lele diserahkan kepada para petani. Untuk mengegolkan usahanya, Fauzan mengeluarkan modal awal Rp4,5 juta.

"Teknologinya kita bantu secara gratis dan kita dampingi proses budi dayanya. Kita jelaskan dari A sampai Z, bahkan hingga pemasaran kita bantu juga. Karena yang pertama mereka tanyakan adalah ke mana mereka menjualnya karena belum paham," imbuhnya.

Diamengakui,sistem ini sangat membantu dalam hal efisiensi lahan sekaligus bisa memberikan efek langsung kepada masyarakat di sekitarnya. Selain itu, model plasma juga memberikan lapangan pekerjaan. "Jadi mereka bisa praktik di lahan masing-masing, tapi kuncinya kita berikan pendampingan secara terus-menerus supaya panennya sukses dan hasilnya bisa kita ambil," tambah anak pertama dari tiga bersaudara ini. Lalu, dari mana Fauzan mendapatkan lahan untuk usahanya? Menurutnya, lahan yang dipakai merupakan hasil kerja sama de-

ngan pemilik lahan. Dia menerapkan sistem bagi hasil. Pemilik lahan memberikan lahan, sementara untuk infrastruktur, teknologi, pekerja, dan manajemen karyawan dikerjakan langsung oleh Fauzan.

Dia mengakui, usaha yang dianggap selingan tadi telah memberikan hasil yang cukup memuaskan, bahkan hal itu dirasakan oleh para petaninya. Oleh karena itu Fauzan berniat fokus mengembangkan usahaini.Untukmemper-kuat usaha dan pemahaman yang sama, Fauzan bersama para petaninya selalu bersilaturahmi melalui perkumpulan serta sharing sebulan sekali untuk membahas masalah yangada seperti penanganan penyakit atau sekadar berbagi informasi terbaru.

Menurut penuturan Fauzan, proses pembibitan lele yang ditekuninya dimulai dari mengawin-kan induk lele hingga proses pene-luran. Bibit yang sudah ditelurkan itu dibesarkan hingga ukuran 5-6 cm sebelum akhirnya dijual kepada petani ataupun pembeli.

Setiap benih lelenya dijual seharga Rpl50 per ekor. Selanjutnya benih lele tersebut dipelihara selama 50 hari hingga dua bulan untuk kemudian di jual ke konsumen. Masa panen lele sangkuriang relatif lebih cepa t dibandingkan jenis lele dumbo yang butuh waktu lebih lama, yakni tiga bulan.

"Kalau mereka (petani) belummenemukan pembeli,agarmereka semangat, saya beri jaminan dengan membelinya. Kalausudah 2-3 kali panen biasanya mereka akan menemukan pembelinya sendiri dan kita bebaskan mau jual ke siapa saja," katanya.

Jika ada petani yang menjual kepada Fauzan, lelenya dihargai Rpll.OOO/kg. Dengan demikian, petani bisa memilih apakah mau menjual kepada Fauzan atau pembeli lain yang menawarkan harga lebih tinggi. "Jadi kita tidak boleh menghalangi mereka untuk mencari untung lebih, nggak ada ikatan," ujarnya.

Saat ini, kapasitas produksi Sylvafarm dari empat area pembibitan adalah 15.000 ekor per bulan. Jumlah tersebut menurut Fauzan masih jauh dari permintaan pasar yangmencapai300.000ekorper bulan.

Fauzan mengaku, dari penjualan bibit bisa memperoleh omzet hingga Rp22,5 juta per bulannya dengan laba bersih sekitar Rpl2 juta. Itu belum termasuk penjualan dari usaha pembesaran lele yang dijual ke konsumen akhir. Adapun dari hasil pembesaran setiap harinya dia bisa menjual hingga 200 kg lele sangkuriang ke pasar.

"Yang paling besar pengeluaran untuk biaya pakan karena pakannya sendiri itu dari pabrik dan itu selalu mengikuti harga pasar dan sering kali naik. Kalau dihi-tung-hitung dengan biaya karyawan, pakan, dan biaya tak terduga seperti terpal, jaring, ongkos transportasi, bersihnya Rpl2 juta per bulan," ujarnya.

Untuk mengembangkan usahanya, dia pun terus berupaya membuat jaringan khusus petani pembenih dengan cara mendidik petani-petani yang memiliki kemampuan lebih telaten dan detail.

Pemenang pertama program Wirausaha Muda Mandiri dari Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ini mengungkapkan, sejak memulai usahanya hingga kini, sudah memi-liki 20 petani binaan. Dia juga mempekerjakan empat karyawan yang bertugas menjaga dan memberi pakan bibit lele tersebut.

Terkait dengan pemasarannya, selama ini Fauzan banyak menjual ke pasar tradisional, usaha warung padang, warung tegal, dan sudah memberikan pasokan untuk salah satu usaha waralaba pecel lele "Lele Lela".

Dia mengaku belum memutuskan menjadi pemasok utama ka-renamasihmemilikikendalalahan dan produksi. Fauzan mengaku selain lahan, kendala lain lebih kepada masalah internal seperti sumber daya manusia, penanganan penyakit, serta keadaan cuaca yang saat ini cenderung berubah-ubah.